Essai mengenai upaya
mewujudkan kemandirian ekonomi Indonesia
Kemandirian Ekonomi
Dalam Pendidikan
Masih
ada kesempatankah Indonesia menjadi negara yang mandiri secara ekonomi?
Pertanyaan ini menjadi sebuah pengantar untuk memasuki essai.
Mandiri
menurut KBBI artinya “man·di·ri a dl keadaan
dapat berdiri sendiri; tidak bergantung pd orang lain” sedangkan kemandirian
berarti “ke·man·di·ri·an n hal atau
keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pd orang lain”.
Masa
depan adalah sesuatu yang pasti, tapi tak seorangpun yang tau apa yang terjadi
di masa depan. Boleh lah ada peramal, dari yang berteknologi maupun yang masih
tradisional tapi tak satupun dari mereka yang tau dengan pasti apa yang terjadi
esok. Boleh saja saat ini Indonesia adalah negara yang menyedihkan, tapi suatu
saat anak cucu kita pasti bisa tersenyum terlahir sebagai warga Indonesia.
Bermimpi
di masa depan adalah bagian dari apa yang kita lihat hari ini. Nyatanya hari
ini masih ada saudara kita yang menangis karena perut mereka yang lapar.
Nyatanya kemarin pada 1 Mei 2013 masih ada saudara kita yang turun ke jalan
untuk menuntut perbaikan nasib mereka. Nyatanya pada hari ini 2 Mei 2013, masih
banyak adik-adik kita yang tidak sempat mengenyam bangku pendidikan. Nyatanya
hari ini, di pelosok-pelosok negeri ini ada infrastruktur-infrastruktur yang
menyedihkan. Jalan-jalan yang berlobang di sepanjang lintas kota lintas
provinsi, begitu masuk ke jalan desa, kondisinya makin memprihatinkan, bahkan
setelah masuk lagi bisa dengan mudah kita temui jalan yang terdiri dari
tumpukan tanah. Itu yang di pelosok, tapi bukan berarti yang di kota tanpa
masalah. Malah semakin kompleks, kita sebagai orang kota tak perlu lah membahas
hal ini. Diantara itu semua ada satu hal yang sudah maju, kendaraan pribadi.
Dengan mudah kita menemukan beragam kendaraan pribadi baik beroda empat maupun
dua di kota. Tapi jangan kira di desa tidak demikian, beragam motor baru
beredar di desa. Bahkan saya sebagai orang kota terkadang iri ketika datang ke
desa. Kenapa motor mereka lebih bagus dari motorku. Padahal tak satupun dari
kendaraan tersebut yang kita buat sendiri, semua berasal dari luar. Lalu di
bagian manakah kita bisa berdiri sendiri dan tidak bergantung pada orang lain? Ada
apa dengan bangsa ini?
Kejadian
hari ini takkan bisa kita lepaskan dari kejadian kemarin, lusa, satu bulan yang
lalu, satu tahun yang lalu, bahkan puluhan tahun lalu. Tidak adanya industri
manufaktur yang berjaya di Indonesia saat ini tidak lepas dari tidak mau nya
kita berfikir di masa lalu, tidak mau nya kita mengembangkan industri strategis
yang sengaja ditelurkan oleh presiden jenius kita Bapak Habibie. Bertahun-tahun
sudah industri strategis seperti PT. Inka, PT. Pindad, PT. Pal terseok-seok. Bahkan
yang tragis IPTN yang ditutup padahal sebelumnya IPTN sudah menerbangkan burung
karyanya di beberapa negara. Bukan bermaksud menyalahkan sejarah, tetapi
menjadi wajar bila saat ini kita menjadi ketergantungan dengan negara lain.
Bila diibaratkan ketergantungan ini sudah seperti candu yang menggerogoti tubuh
kita. Bayangkan saja, bila dulu kita hanya impor produk berteknologi tinggi,
dewasa ini kita juga impor beras, gula, bawang dan kebutuhan lain yang bisa
tumbuh bila kita tancapkan di tanah kita sendiri. Sampai disini bagian
manakahnya dari negara ini yang tidak bergantung pada negara lain?
Awan
kelabu tersebut bukan tidak bisa diusir dan diganti dengan cuaca yang cerah.
Kita bahkan bisa membuatnya menjadi hujan yang turun menyirami tanah kita agar
menjadi subur kembali. Bagaimanakah caranya? Dengan pendidikan!
3 ciri-ciri orang maju yang dikemukakan oleh Alex Inkeles:
1.
Selalu siap dengan pengalaman baru dan terbuka
terhadap inovasi dan perubahan
2.
Memiliki pendapat tentang banyak hal dan
masalah, serta menyadari adanya perbedaan pendapat
3.
Memiliki apresiasi terhadap waktu, terutama
tentang kekinian dan masa depan
4.
Selalu berorientasi kepada dan selalu terlibat
dengan perencanaan
5.
Percaya bahwa sesuatu bisa dipelajari
6.
Percaya bahwa “dunia” ini bisa dihitung
7.
Menekankan pada pentingnya harga diri
8.
Lebih percaya kepada ilmu dan teknologi
9.
Sangat yakin terhadap distribusi keadilan yang
didasarkan pada kontribusi kerja daripada hal-hal lain
Kesemua hal tersebut bisa
dirangkum didalam sebuah pendidikan. Inilah perbedaan antara kita saat ini
dengan negara maju. Kehausan kita akan adanya ilmu sangatlah kurang bila
dibandingkan dengan mereka. Padahal dengan belajar, proses jatuh bangun, gagal,
berhasil dan semua proses yang berkaitan bisa membuat kita percaya diri. Kita tak
ragu lagi menyatakan pendapat. Kita bisa ikut andil membuat perubahan, dan kita
tak akan ragu mengukirkan tinta emas di masa depan. Dengan adanya kepercayaan
diri untuk mengambil inisiatif seperti itu lah maka akan muncul kegiatan yang
mengarah pada usaha memperbaiki kualitas hidup, meningkatkan nilai tambah, dan
membuat hidup jadi berguna.
Tampaknya pemerintah sudah
menyadari hal tersebut. Terbukti dengan adanya program seperti bidik misi yang
membiayai pendidikan warga kurang mampu. Atau dengan program mahasiswa
wirausaha seperti ini, yang membantu mahasiswa untuk mengkreasikan apa yang
telah dipelajari agar bisa berguna di masyarakat. Dengan belajar dan terus
belajar seperti ini maka menjadi negara maju bukan tidak mungkin kita raih.
Setelah menjadi negara maju, maka pertanyaan awal mengenai “Masih ada
kesempatankah Indonesia menjadi negara yang mandiri secara ekonomi?” bukanlah
menjadi hal yang rumit lagi. Mari bersama-sama mewujudkan hal tersebut.
Referensi: Abdullah, Burhanuddin; 2006; Menanti Kemakmuran
Negeri; Jakarta; Gramedia.