Indonesia
terus berbenah! Bangunan demi bangunan baru muncul dan akan terus bertambah
demi menunjang rencana kemajuan bangsa. Sebut saja yang paling dekat, Babakan
Siliwangi (Baksil) di Kota Bandung, yang selama ini hanya berupa hutan kota
rencananya akan diubah menjadi beberapa bangunan seperti apartemen, rumah makan
dan bangunan mewah lain oleh pengembang yang sudah mendapat restu dari Bapak
Dada Rosada, PT EGI.
Lain
di Bandung, lain juga di Surabaya. Beberapa waktu lalu muncul rencana
pembangunan tol tengah kota yang di gagas oleh Bapak Wisnu Wardhana. Meskipun
akhirnya niat itu batal direalisasikan.
Pembangunan
adalah hal yang wajib dilakukan oleh setiap bangsa. Bila kita mengintip ke
beberapa negara maju bangunan yang mereka miliki bahkan lebih padat dari kita,
tetapi hal yang membuat saya tertarik adalah mereka tetap tidak menghilangkan
fasilitas publik untuk masyarakat. Misalnya saja ada nya taman bermain di atap
gedung bertingkat.
Bukan
bermaksud mengerdilkan bangsa kita, tetapi agaknya pembangunan yang tetap memberikan
tempat bermain untuk anak-anak belum begitu populer di sini. Hal ini bukan
merupakan masalah jika tempat pembangunannya di desa yang masih banyak lahan
kosong. Tapi bagaimana bila di kota?
Dua
tahun sudah saya meninggalkan Surabaya untuk berkuliah di institut terkenal di
Bandung. Selama itu juga saya merasakan Bandung jauh lebih kacau dari Surabaya.
Mulai dari jalan yang hanya selebar pinggang, saluran drainase yang seadanya,
banjir ketika hujan, dan seabrek masalah lain. Meskipun begitu, Bandung masih
terus hidup dengan semarak. Karena apa lagi kalau bukan semangat kreasi dan
inovasi yang tak pernah mati dari pemuda Bandung.
Bayangkan
setiap harinya ada berapa orang yang datang ke bandung hanya untuk berbelanja
pakaian. Belum lagi bisnis makanan unik yang berhasil menarik minat warga di
luar Bandung. Bahkan keripik singkong saja bisa meledak dan mencuri perhatian.
Semangat
Bandung inilah yang seharusnya di tularkan di kota-kota lain. Saat menjadi
pemuda, khususnya mahasiswa adalah saat dimana keinginan untuk mengekspresikan
diri sedang berada di puncaknya.
Di
asrama tempatku tinggal saat ini ada sebuah lemari yang berisi piala hasil
berbagai turnamen olah raga. Namun hampir semua piala yang terpajang disitu
umurnya hampir sama denganku. Ini bukti, bahwa pemuda saat ini mulai kehilangan
tempat mereka mengadakan turnamen olah raga, khususnya mahasiswa karena
perguruan tinggi hampir selalu berada di kota.
Lalu
harus disalurkan kemana semangat mahasiswa yang berapi-api itu? Disinilah peran
pemerintah untuk mengarahkan mereka kepada gerbang wirausaha. Wirausaha dewasa
ini tidak memerlukan banyak peralatan. Cukup dengan komputer berkoneksi
internet, mahasiswa bisa jualan berbagai kebutuhan.
Dengan
berwirausaha, maka mahasiswa akan mempunyai tempat mematangkan diri mereka.
Mereka tidak akan punya cukup waktu untuk melakukan kenakalan remaja seperti
yang banyak terjadi di kota besar saat ini. Lalu tunggu apa lagi? Wirausaha
adalah tempat baru bagi mahasiswa untuk bermain, setelah tempat yang ada
digusur oleh pembangunan.