Apa sebenarnya pengertian ujian nasional atau unas itu? Mari kita tengok pengertian unas secara umum oleh wikipedia http://id.wikipedia.org/wiki/Ujian_Nasional
Part I: Penolakan Terhadap UNAS
Dalam perjalanannya unas menuai banyak kritik, bahkan ada yang sampai menuntut meniadakan unas. Banyak alasan yang mendasari mengapa banyak yang menuntut unas di tiadakan. Diantaranya: banyak joki yang berkeliaran selama perhelatan unas, adanya soal yang bocor sebelum unas dilaksanakan, banyaknya kecurangan yang dilakukan untukmendapatkan nilai unas yang tinggi.
Alasan alasan tersebut sangat mengindikasikan hasil yang dicapai dalam unas tidaklah valid. Meskipun begitu, unas tidak bisa begitu saja kita tiadakan. Pasalnya ketika kita meniadakan unas, kita akan kehilangan sebuah standar untuk mengukur hasil belajar, kecuali bila anda mempunyai standar lain yang bisa menandingi unas. Bila anda belum bisa memberi alternative selain unas, dan merasa kecurangan adalah poinnya, berarti solusi dari masalah tersebut adalah bagaimana memerangi kecurangan itu, bukan meniadakan unas. Dari sini setuju kan?
Part II: Pendidikan, Salah Satu Ujung Tombak Ekonomi Bangsa
Maju tidaknya ekonomi sebuah bangsa, salah satunya dipengaruhi oleh kualitas pendidikan suatu bangsa. Bagaimana tidak? Sumber daya manusia adalah salah satu ujung tombak dalam membentuk industri yang mapan yang kemudian menopang sendi sendi ekonomi bangsa. Right?
Setelah itu kita tengok ekonomi bangsa ini. Kemiskinan dan pengangguran yang merajalela mengindikasikan bahwa di dalam pendidikan kita masih ada sesuatu yang salah. Dari sini setuju kan?
Part III: Sebuah Terobosan Mengenai UNAS
Sudah menjadi rahasia umum, kita adalah bangsa yang memiliki mentalitas yang buruk. Bukan bermaksud menggeneralisasikan, tapi faktanya sebagian besar dari kita memilikinya. Dan efek dari orang dengan mentalitas yang buruk lebih terasa dari efek orang dengan mentalitas yan baik. Merubah sebuah kebiasaan yang sudah mengakar dalam diri sebagai mental ini bukanlah hal yang mudah, right? Oleh karena itu, kita membutuhkan sebuah terobosan, beberapa kebijakan tidak popular, untuk mengubah mentalitas bangsa kita.
Dalam kaitannya dengan unas, kita mendapati menteri pendidikan kita mempunyai sebuah terobosan, juga sebuah kebijakan yang tidak popular. Buktinya banyak dari kita yang menolak, right? Memang kebijakan ini tidak langsung sepenuhnya mengubah pendidikan kita jadi pendidikan yang “benar”, hanya saja kita harus mengapresiasi langkah kecil yang di lakukan bapak menteri kita. Karena disini bapak menteri sudah berani mempertaruhkan karirnya dalam pemerintahan demi sebuah perubahan dalam pendidikan kita.
Part IV: Penutup
Salah satu indikasi bahwa bangsa itu sedang sakit adalah kurang bisa nya suatu bangsa menghargai suatu karya seseorang. Tidak bisa dipungkiri, selama ini kita terjebak oleh masa lalu yang kelam dari sejarah bangsa kita. Tidak munafik, saya juga sering malakukan hal tersebut, sehingga sering terjebak dalam stigma “pemerintahan beserta isinya dan apa saja yang dlakukannya adalah hal yang buruk”. Bila kita terus lempeng berada di zona nyaman, tidak menghendaki adanya perubahan, maka sampai kapan pun kita akan terjebak dalam masalah buruknya bangsa kita, right? Sebaliknya, bila kita menghendaki adanya sebuah perbaikan, maka hargailah sebuah perubahan yang dilakukan pemimpin kita, baru kemudian kita kritisi mana mana celah yang masih bisa dibobol.
Saya selalu menekankan, Indonesia butuh right man in the right place. Indonesia butuh orang orang yang berkompetensi di bidangnya untuk mengurusi bidang tersebut, tapi sayangnya banyak orang Indonesia yang berbaik hati mengurusi yang bukan kompetensinya. Dan disini penulis sebagai lulusan SMA yang sedang belajar di S1 teknik, tentu tidak punya kompetensi dalam perhelatan unas. Tetapi saya rasa, masalah rusaknya mentalitas bangsa adalah masalah kita bersama. Sekian, mohon maaf bila ada salah. Kritik dan saran bisa langsung sampaikan disini, atau bisa sampaikan melalui email ke emasajay@yahoo.co.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar