Rabu, 31 Oktober 2012

Pendidikan Karakter Dimataku



       I.    Pendahuluan
Jauh sebelum pendidikan karakter menjadi popular, Sukarno di dalam pidatonya selalu membawa pentingnya pendidikan karakter. Hal ini membuktikan bahwa sejak dahulu, negara ini mencita-citakan bangsa ini memiliki karakter yang baik. Namun angan hanya menjadi angan bila kita tidak serius untuk mewujudkannya. Bukti yang nyata adalah di layar kaca dapat dengan mudah kita temui sebuah ironi. Pendidik yang harisnya mendidik malah dididik, penegak hukum yang harusnya menghukum malah dihukum, pejabat yang harusnya melayani masyarakat malah berbalik minta dilayani. Harusnya ini sudah cukup membuat kita menangis sembari berfikir akan menjadi apa bangsa ini beberapa dekade kedepan bila hal ini tidak segera diubah.

    II.    Pembahasan
Sebelum kita jauh melangkah membahas pendidikan karakter di ITB, kita akan mencari pengertian pendidikan karakter itu terlebih dahulu.
a.       Pendidikan Karakter Menurut Ki Hajar Dewantara


b.      Pendidikan Karakter Menurut Lickona

Apapun definisinya, pendidikan karakter sejatinya mendambakan muncul kebiasaan hebat dari peserta didik.
 III.            Studi Kasus
Seperti yang bisa dilihat sehari-hari, ITB sebagai kampus teknik terbaik bangsa tak lepas dari peliknya masalah karakter, sama seperti yang lain. Misalnya saja masalah sederhana, peduli kepada masyarakat sekitar ITB. Bila kita adalah kampus yang berkiblat pada sertifikasi ABBET milik amerika, harusnya kita juga bisa meniru kampus teknik terbaik mereka, MIT, yang kabarnya radius berapa kilometer dari tempatnya berdiri masyarakatnya sudah madani. Itu baru masalah eksternal. Masalah internal juga tak kalah pelik, misalnya saja banyaknya kasus pencurian, kurang pekanya mahasiswa terhadap sarana seperti WC, sepeda kampus, dll bila kita bahas masalah yang menjangkiti karakter mahasiswa ITB tidak akan pernah ada habisnya.
Lalu apa? Berkeluh kesah tak akan pernah menyelesaikan masalah. Perlu ada niatan dalam diri masing-masing insan pembelajar di kampus ini. Dengan ditunjang sedikit fasilitas dari institute terbaik bangsa ini, cepat atau lambat semua akan berubah. Sekali lagi semua tergantung niatan dalam diri mahasiswa. Semuanya harus mau untuk berubah!
 IV.            Penutup
ITB adalah kampus pencetak mesin-mesin petarung yang siap memimpin bangsa ini kedepannya. Apapun yang dilakukan mesin-mesin tersebut nantinya, pendidikan di ITB ini besar atau kecil pasti berpengaruh. Meskipun saat ini pendidikan karakter sudah sangat digalakkan di kampus ini, namun penulis rasa hal itu kurang massif dan kurang mendapatkan hasil. Perlu ada suatu terobosan baru yang sekiranya bisa memberikan efek positif terhadap kebiasan yang dimiliki mahasiswanya.
Ada pepatah yang mengatakan “bila engkau menemukan satu masalah, maka seharusnyalah kamu memberikan lima solusi untuk mengatasinya”. Inilah lima solusi yang diajukan oleh penulis.
1.      Pendidikan karakter embedded dalam pembelajaran. Tak bisa dipungkiri pendidikan di kampus ini sudah terlalu otak kiri oriented. Setiap hari kita dituntut bisa menghitung ini, menalar itu namun tidak dituntut untuk bersikap sopan disini, berkelakuan baik disitu. Karena itu penulis mengusulkan di dalam pembelajaran, dosen menyentil sedikit masalah karakter sebelum melanjutkan lagi.
2.      Kemahasiswaan yang mendukung kebiasaan baik. Kemahasiswaan di ITB setahu penulis adalah kemahasiswaan ternetral yang pernah ada di kampus di negeri ini. Disini mau melakukan A, B, C dan yang lain tak ada yang membayangi organisasi dalam kampus ini, tak seperti kampus lain yang kebanyakan disetir organisasi luar. Karena peluangnya yang besar ini, harusnya bisa menarik minat mahasiswa untuk masuk, bukan seperti saat ini.
3.      Pembiasaan sesuatu. Harusnya kita memiliki suatu kebiasaan baik yang dilakukan terus menerus, misalnya saja memberi salam pada bapak ibu dosen. Sebuah karakter bisa terbangun dari kegiatan yang dilakukan terus menerus.
4.      Reward. Sudah sepantasnya seseorang yang berkarakter baik mendapat penghargaan atas prestasinya. Harapannya dengan diperlakukan demikian sang mahasiswa bisa terus termotivasi untuk berprestasi. Selain itu orang lain pun menjadi iri, dan pasti akan banyak yang menginginkan seperti itu.
5.      Pembentukan iklim yang baik. Ikan tumbuh sehat tergantung seberapa mendukungnya lingkungannya untuk menyediakan kondisi untuk dia. Sesudah keinginan dalam diri masing-masing mahasiswa terpacu, sekarang saatnya membuat suatu ekosistem yang mendukung kegiatan berkarakter!


Referensi:
1.    http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/131656343/PENDIDIKAN%20KARAKTER%20MENURUT%20KI%20HAJAR%20DEWANTORO.pdf
2.      http://edukasi.kompasiana.com/2012/07/31/pendidikan-karakter/

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas membuat makalah mata kuliah pancasila dan kewarganegaraan KU2071

Minggu, 28 Oktober 2012