Kamis, 06 Juni 2013

Mahasiswa dan Wirausaha di Era Pembangunan



Indonesia terus berbenah! Bangunan demi bangunan baru muncul dan akan terus bertambah demi menunjang rencana kemajuan bangsa. Sebut saja yang paling dekat, Babakan Siliwangi (Baksil) di Kota Bandung, yang selama ini hanya berupa hutan kota rencananya akan diubah menjadi beberapa bangunan seperti apartemen, rumah makan dan bangunan mewah lain oleh pengembang yang sudah mendapat restu dari Bapak Dada Rosada, PT EGI.
Lain di Bandung, lain juga di Surabaya. Beberapa waktu lalu muncul rencana pembangunan tol tengah kota yang di gagas oleh Bapak Wisnu Wardhana. Meskipun akhirnya niat itu batal direalisasikan.
Pembangunan adalah hal yang wajib dilakukan oleh setiap bangsa. Bila kita mengintip ke beberapa negara maju bangunan yang mereka miliki bahkan lebih padat dari kita, tetapi hal yang membuat saya tertarik adalah mereka tetap tidak menghilangkan fasilitas publik untuk masyarakat. Misalnya saja ada nya taman bermain di atap gedung bertingkat.
Bukan bermaksud mengerdilkan bangsa kita, tetapi agaknya pembangunan yang tetap memberikan tempat bermain untuk anak-anak belum begitu populer di sini. Hal ini bukan merupakan masalah jika tempat pembangunannya di desa yang masih banyak lahan kosong. Tapi bagaimana bila di kota?
Dua tahun sudah saya meninggalkan Surabaya untuk berkuliah di institut terkenal di Bandung. Selama itu juga saya merasakan Bandung jauh lebih kacau dari Surabaya. Mulai dari jalan yang hanya selebar pinggang, saluran drainase yang seadanya, banjir ketika hujan, dan seabrek masalah lain. Meskipun begitu, Bandung masih terus hidup dengan semarak. Karena apa lagi kalau bukan semangat kreasi dan inovasi yang tak pernah mati dari pemuda Bandung.
Bayangkan setiap harinya ada berapa orang yang datang ke bandung hanya untuk berbelanja pakaian. Belum lagi bisnis makanan unik yang berhasil menarik minat warga di luar Bandung. Bahkan keripik singkong saja bisa meledak dan mencuri perhatian.
Semangat Bandung inilah yang seharusnya di tularkan di kota-kota lain. Saat menjadi pemuda, khususnya mahasiswa adalah saat dimana keinginan untuk mengekspresikan diri sedang berada di puncaknya.
Di asrama tempatku tinggal saat ini ada sebuah lemari yang berisi piala hasil berbagai turnamen olah raga. Namun hampir semua piala yang terpajang disitu umurnya hampir sama denganku. Ini bukti, bahwa pemuda saat ini mulai kehilangan tempat mereka mengadakan turnamen olah raga, khususnya mahasiswa karena perguruan tinggi hampir selalu berada di kota.
Lalu harus disalurkan kemana semangat mahasiswa yang berapi-api itu? Disinilah peran pemerintah untuk mengarahkan mereka kepada gerbang wirausaha. Wirausaha dewasa ini tidak memerlukan banyak peralatan. Cukup dengan komputer berkoneksi internet, mahasiswa bisa jualan berbagai kebutuhan.
Dengan berwirausaha, maka mahasiswa akan mempunyai tempat mematangkan diri mereka. Mereka tidak akan punya cukup waktu untuk melakukan kenakalan remaja seperti yang banyak terjadi di kota besar saat ini. Lalu tunggu apa lagi? Wirausaha adalah tempat baru bagi mahasiswa untuk bermain, setelah tempat yang ada digusur oleh pembangunan.

Kamis, 02 Mei 2013

Kemandirian Ekonomi Dalam Pendidikan



Essai mengenai upaya mewujudkan kemandirian ekonomi Indonesia
Kemandirian Ekonomi Dalam Pendidikan
                Masih ada kesempatankah Indonesia menjadi negara yang mandiri secara ekonomi? Pertanyaan ini menjadi sebuah pengantar untuk memasuki essai.
                Mandiri menurut KBBI artinya “man·di·ri a dl keadaan dapat berdiri sendiri; tidak bergantung pd orang lain” sedangkan kemandirian berarti “ke·man·di·ri·an n hal atau keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pd orang lain”.
                Masa depan adalah sesuatu yang pasti, tapi tak seorangpun yang tau apa yang terjadi di masa depan. Boleh lah ada peramal, dari yang berteknologi maupun yang masih tradisional tapi tak satupun dari mereka yang tau dengan pasti apa yang terjadi esok. Boleh saja saat ini Indonesia adalah negara yang menyedihkan, tapi suatu saat anak cucu kita pasti bisa tersenyum terlahir sebagai warga Indonesia.
                Bermimpi di masa depan adalah bagian dari apa yang kita lihat hari ini. Nyatanya hari ini masih ada saudara kita yang menangis karena perut mereka yang lapar. Nyatanya kemarin pada 1 Mei 2013 masih ada saudara kita yang turun ke jalan untuk menuntut perbaikan nasib mereka. Nyatanya pada hari ini 2 Mei 2013, masih banyak adik-adik kita yang tidak sempat mengenyam bangku pendidikan. Nyatanya hari ini, di pelosok-pelosok negeri ini ada infrastruktur-infrastruktur yang menyedihkan. Jalan-jalan yang berlobang di sepanjang lintas kota lintas provinsi, begitu masuk ke jalan desa, kondisinya makin memprihatinkan, bahkan setelah masuk lagi bisa dengan mudah kita temui jalan yang terdiri dari tumpukan tanah. Itu yang di pelosok, tapi bukan berarti yang di kota tanpa masalah. Malah semakin kompleks, kita sebagai orang kota tak perlu lah membahas hal ini. Diantara itu semua ada satu hal yang sudah maju, kendaraan pribadi. Dengan mudah kita menemukan beragam kendaraan pribadi baik beroda empat maupun dua di kota. Tapi jangan kira di desa tidak demikian, beragam motor baru beredar di desa. Bahkan saya sebagai orang kota terkadang iri ketika datang ke desa. Kenapa motor mereka lebih bagus dari motorku. Padahal tak satupun dari kendaraan tersebut yang kita buat sendiri, semua berasal dari luar. Lalu di bagian manakah kita bisa berdiri sendiri dan tidak bergantung pada orang lain? Ada apa dengan bangsa ini?
                Kejadian hari ini takkan bisa kita lepaskan dari kejadian kemarin, lusa, satu bulan yang lalu, satu tahun yang lalu, bahkan puluhan tahun lalu. Tidak adanya industri manufaktur yang berjaya di Indonesia saat ini tidak lepas dari tidak mau nya kita berfikir di masa lalu, tidak mau nya kita mengembangkan industri strategis yang sengaja ditelurkan oleh presiden jenius kita Bapak Habibie. Bertahun-tahun sudah industri strategis seperti PT. Inka, PT. Pindad, PT. Pal terseok-seok. Bahkan yang tragis IPTN yang ditutup padahal sebelumnya IPTN sudah menerbangkan burung karyanya di beberapa negara. Bukan bermaksud menyalahkan sejarah, tetapi menjadi wajar bila saat ini kita menjadi ketergantungan dengan negara lain. Bila diibaratkan ketergantungan ini sudah seperti candu yang menggerogoti tubuh kita. Bayangkan saja, bila dulu kita hanya impor produk berteknologi tinggi, dewasa ini kita juga impor beras, gula, bawang dan kebutuhan lain yang bisa tumbuh bila kita tancapkan di tanah kita sendiri. Sampai disini bagian manakahnya dari negara ini yang tidak bergantung pada negara lain?
                Awan kelabu tersebut bukan tidak bisa diusir dan diganti dengan cuaca yang cerah. Kita bahkan bisa membuatnya menjadi hujan yang turun menyirami tanah kita agar menjadi subur kembali. Bagaimanakah caranya? Dengan pendidikan!
3 ciri-ciri orang maju yang dikemukakan oleh Alex Inkeles:
1.       Selalu siap dengan pengalaman baru dan terbuka terhadap inovasi dan perubahan
2.       Memiliki pendapat tentang banyak hal dan masalah, serta menyadari adanya perbedaan pendapat
3.       Memiliki apresiasi terhadap waktu, terutama tentang kekinian dan masa depan
4.       Selalu berorientasi kepada dan selalu terlibat dengan perencanaan
5.       Percaya bahwa sesuatu bisa dipelajari
6.       Percaya bahwa “dunia” ini bisa dihitung
7.       Menekankan pada pentingnya harga diri
8.       Lebih percaya kepada ilmu dan teknologi
9.       Sangat yakin terhadap distribusi keadilan yang didasarkan pada kontribusi kerja daripada hal-hal lain
Kesemua hal tersebut bisa dirangkum didalam sebuah pendidikan. Inilah perbedaan antara kita saat ini dengan negara maju. Kehausan kita akan adanya ilmu sangatlah kurang bila dibandingkan dengan mereka. Padahal dengan belajar, proses jatuh bangun, gagal, berhasil dan semua proses yang berkaitan bisa membuat kita percaya diri. Kita tak ragu lagi menyatakan pendapat. Kita bisa ikut andil membuat perubahan, dan kita tak akan ragu mengukirkan tinta emas di masa depan. Dengan adanya kepercayaan diri untuk mengambil inisiatif seperti itu lah maka akan muncul kegiatan yang mengarah pada usaha memperbaiki kualitas hidup, meningkatkan nilai tambah, dan membuat hidup jadi berguna.
Tampaknya pemerintah sudah menyadari hal tersebut. Terbukti dengan adanya program seperti bidik misi yang membiayai pendidikan warga kurang mampu. Atau dengan program mahasiswa wirausaha seperti ini, yang membantu mahasiswa untuk mengkreasikan apa yang telah dipelajari agar bisa berguna di masyarakat. Dengan belajar dan terus belajar seperti ini maka menjadi negara maju bukan tidak mungkin kita raih. Setelah menjadi negara maju, maka pertanyaan awal mengenai “Masih ada kesempatankah Indonesia menjadi negara yang mandiri secara ekonomi?” bukanlah menjadi hal yang rumit lagi. Mari bersama-sama mewujudkan hal tersebut.
Referensi: Abdullah, Burhanuddin; 2006; Menanti Kemakmuran Negeri; Jakarta; Gramedia.

Senin, 22 April 2013

Awal dari Pengabdian Tulus, Palapa 1 HME ITB (menceritakan kembali)



Palapa, adalah nama yang diambil untuk kegiatan pengabdian masyarakat oleh Himpunan Mahasiswa Elektroteknik Institut Teknologi Bandung (HME ITB). Jenis kegiatannya dari generasi ke generasi hampir serupa, yaitu membuat pembangkit listrik di daerah yang belum mendapat pasokan listrik dari PLN.

Kegiatan ini diawali di osjur elektro 2005. Setiap tahunnya, osjur memberikan tugas angkatan membuat sebuah proyek yang di garap bersama. Tugas angkatan – tugas angkatan tahun sebelumnya terkesan hanya sebatas service kepada masyarakat, seperti membuat WC, membersihkan sungai. Untuk angkatan 2005 ini mempunyai ide yag berbeda, mereka ingin sesuatu yang berjangka panjang, dan bukan sesuatu hal yang dipaksakan masuk melainkan hal yang memang dibutuhkan oleh masyarakat tempat eksekusi. Akhirnya diputuskanlah untuk membuat pembangkit listrik pikohidro dengan kapasitas 10kW untuk menerangi Kampung Cilutung Desa Jayamukti Kecamatan Ciurip, Garut. Dan untuk nama nya diambil Palapa Jaya.

Desa Jayamukti bukanlah desa pertama yang ingin di nyalakan lampunya, sebelumnya ada Desa Cimaragang Kabupaten Cianjur, namun karena instalasi listrik PLN akan segera masuk di daerah tersebut. Berbeda dengan Desa Cimaragang, kampung cilutung ini jauh dari pusat infrastruktur. Warga harus berjalan sekian kilometer untuk mencapai SMA, pasar, sarana kesehatan, dan infrastruktur lain. Bahkan sarana MCK pun sangat minim disini. Padahal kampung ini mempunyai banyak potensi yang bisa dikembangkan. Maka dengan dikembangkannya potensi sungai agar bisa menghasilkan listrik ini, diharapkan potensi-potensi lain bisa menyusul. Mengapa bisa begitu? Bayangkan bila saat ini murid di desa tersebut menggunakan lilin untuk belajar, maka apa yang terjadi bila kita mengganti lilin tersebut dengan lampu yang sangat terang? Belum lagi kegiatan warga yang sebelumnya terbatas dengan penerangan matahari, kini mereka bisa tetap produktif walaupun di malam hari.

Namun cita-cita mulia tersebut bukan berjalan tanpa hambatan, bahkan hambatan yang paling pertama datang adalah dari dalam sendiri. Sibuknya kegiatan belajar, tidak bisa dipugkiri membuat Palapa cukup terbengkalai. Akhirnya diambillah liburan semester pada tahun 2007 untuk merealisasikan proyek ini. Tampuk kepemimpinanpun diserahkan kepada Testantoro Randi Putra, setelah sebelumnya Fadolly Ardin naik jabatan menjadi ketua HME ITB. Di tangan randi inilah kepanitiaan ditata ulang. Secara garis besar kepanitiaan dibagi menjadi dua, tim sosial dan tim teknis. Tim sosial bertugas mempersiapkan masyarakat agar siap menerima teknologi yang masuk, sedangkan tim teknis memikirkan pembangkitnya.
Setelah adanya pembangkit ini, warga yang sebelumnya harus membayar 5000 rupiah untuk satu lampu berukuran 5 watt, kini hanya perlu mengeluarkan 2000 rupiah untuk bayak kegiatan yang bisa dinikmati bersama per bulan. Selain disisi warga, sebagai mahasiswa pun mendapat pelajaran behraga mengenai bagaimana bekerja sama dengan warga. Karena tidak bisa dipungkiri nantinya mahasiswa lah yang akan menjadi abdi Negara.

Meskipun mendapat banyak cibiran mengenai konsepnya yang tidak terlalu matang, Palapa 1 mendapat banyak apresiasi dari berbagai kalangan. Seperti: pada tahun 2010 Palapa HME ITB mendapatkan 3rd Winner IEEE Presidents’ Chance The World Competition, pada tahun 2011 paper Palapa HME ITB berhasil masuk ke dalam IEEEXplore - Delivering full text access to the world’s highest quality tehcnical literature in engineering and technology. Paper tersebut berjudul: PALAPA - Distributed Power Generation for The Development of Underdeveloped villages in Indonesia. Dan banyak penghargaan lain.

Palapa 1 hanyalah awal sebelum proyek-proyek berikutnya yang dilucurkan oleh HME ITB sebagai bentuk pengabdian yang tulus kepada bangsa.