Palapa, adalah nama yang diambil untuk kegiatan pengabdian
masyarakat oleh Himpunan Mahasiswa Elektroteknik Institut Teknologi Bandung
(HME ITB). Jenis kegiatannya dari generasi ke generasi hampir serupa, yaitu
membuat pembangkit listrik di daerah yang belum mendapat pasokan listrik dari
PLN.
Kegiatan ini diawali di osjur elektro 2005. Setiap tahunnya,
osjur memberikan tugas angkatan membuat sebuah proyek yang di garap bersama. Tugas
angkatan – tugas angkatan tahun sebelumnya terkesan hanya sebatas service kepada masyarakat, seperti
membuat WC, membersihkan sungai. Untuk angkatan 2005 ini mempunyai ide yag
berbeda, mereka ingin sesuatu yang berjangka panjang, dan bukan sesuatu hal
yang dipaksakan masuk melainkan hal yang memang dibutuhkan oleh masyarakat
tempat eksekusi. Akhirnya diputuskanlah untuk membuat pembangkit listrik
pikohidro dengan kapasitas 10kW untuk menerangi Kampung Cilutung Desa Jayamukti
Kecamatan Ciurip, Garut. Dan untuk nama nya diambil Palapa Jaya.
Desa Jayamukti bukanlah desa pertama yang ingin di nyalakan
lampunya, sebelumnya ada Desa Cimaragang Kabupaten Cianjur, namun karena
instalasi listrik PLN akan segera masuk di daerah tersebut. Berbeda dengan Desa
Cimaragang, kampung cilutung ini jauh dari pusat infrastruktur. Warga harus
berjalan sekian kilometer untuk mencapai SMA, pasar, sarana kesehatan, dan
infrastruktur lain. Bahkan sarana MCK pun sangat minim disini. Padahal kampung ini
mempunyai banyak potensi yang bisa dikembangkan. Maka dengan dikembangkannya
potensi sungai agar bisa menghasilkan listrik ini, diharapkan potensi-potensi
lain bisa menyusul. Mengapa bisa begitu? Bayangkan bila saat ini murid di desa
tersebut menggunakan lilin untuk belajar, maka apa yang terjadi bila kita
mengganti lilin tersebut dengan lampu yang sangat terang? Belum lagi kegiatan
warga yang sebelumnya terbatas dengan penerangan matahari, kini mereka bisa
tetap produktif walaupun di malam hari.
Namun cita-cita mulia tersebut bukan berjalan tanpa hambatan,
bahkan hambatan yang paling pertama datang adalah dari dalam sendiri. Sibuknya kegiatan
belajar, tidak bisa dipugkiri membuat Palapa cukup terbengkalai. Akhirnya diambillah
liburan semester pada tahun 2007 untuk merealisasikan proyek ini. Tampuk kepemimpinanpun
diserahkan kepada Testantoro Randi Putra, setelah sebelumnya Fadolly Ardin naik
jabatan menjadi ketua HME ITB. Di tangan randi inilah kepanitiaan ditata ulang.
Secara garis besar kepanitiaan dibagi menjadi dua, tim sosial dan tim teknis. Tim
sosial bertugas mempersiapkan masyarakat agar siap menerima teknologi yang
masuk, sedangkan tim teknis memikirkan pembangkitnya.
Setelah adanya pembangkit ini, warga yang sebelumnya harus
membayar 5000 rupiah untuk satu lampu berukuran 5 watt, kini hanya perlu
mengeluarkan 2000 rupiah untuk bayak kegiatan yang bisa dinikmati bersama per
bulan. Selain disisi warga, sebagai mahasiswa pun mendapat pelajaran behraga
mengenai bagaimana bekerja sama dengan warga. Karena tidak bisa dipungkiri
nantinya mahasiswa lah yang akan menjadi abdi Negara.
Meskipun mendapat banyak cibiran mengenai konsepnya yang
tidak terlalu matang, Palapa 1 mendapat banyak apresiasi dari berbagai
kalangan. Seperti: pada tahun 2010 Palapa HME ITB mendapatkan 3rd Winner IEEE Presidents’ Chance The World
Competition, pada tahun 2011 paper Palapa HME ITB berhasil masuk ke
dalam IEEEXplore - Delivering full text access to the
world’s highest quality tehcnical literature in engineering and technology.
Paper tersebut berjudul: PALAPA - Distributed Power
Generation for The Development of Underdeveloped villages in Indonesia.
Dan banyak penghargaan lain.
Palapa 1 hanyalah awal sebelum proyek-proyek berikutnya yang
dilucurkan oleh HME ITB sebagai bentuk pengabdian yang tulus kepada bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar