Senin, 22 April 2013

Awal dari Pengabdian Tulus, Palapa 1 HME ITB (menceritakan kembali)



Palapa, adalah nama yang diambil untuk kegiatan pengabdian masyarakat oleh Himpunan Mahasiswa Elektroteknik Institut Teknologi Bandung (HME ITB). Jenis kegiatannya dari generasi ke generasi hampir serupa, yaitu membuat pembangkit listrik di daerah yang belum mendapat pasokan listrik dari PLN.

Kegiatan ini diawali di osjur elektro 2005. Setiap tahunnya, osjur memberikan tugas angkatan membuat sebuah proyek yang di garap bersama. Tugas angkatan – tugas angkatan tahun sebelumnya terkesan hanya sebatas service kepada masyarakat, seperti membuat WC, membersihkan sungai. Untuk angkatan 2005 ini mempunyai ide yag berbeda, mereka ingin sesuatu yang berjangka panjang, dan bukan sesuatu hal yang dipaksakan masuk melainkan hal yang memang dibutuhkan oleh masyarakat tempat eksekusi. Akhirnya diputuskanlah untuk membuat pembangkit listrik pikohidro dengan kapasitas 10kW untuk menerangi Kampung Cilutung Desa Jayamukti Kecamatan Ciurip, Garut. Dan untuk nama nya diambil Palapa Jaya.

Desa Jayamukti bukanlah desa pertama yang ingin di nyalakan lampunya, sebelumnya ada Desa Cimaragang Kabupaten Cianjur, namun karena instalasi listrik PLN akan segera masuk di daerah tersebut. Berbeda dengan Desa Cimaragang, kampung cilutung ini jauh dari pusat infrastruktur. Warga harus berjalan sekian kilometer untuk mencapai SMA, pasar, sarana kesehatan, dan infrastruktur lain. Bahkan sarana MCK pun sangat minim disini. Padahal kampung ini mempunyai banyak potensi yang bisa dikembangkan. Maka dengan dikembangkannya potensi sungai agar bisa menghasilkan listrik ini, diharapkan potensi-potensi lain bisa menyusul. Mengapa bisa begitu? Bayangkan bila saat ini murid di desa tersebut menggunakan lilin untuk belajar, maka apa yang terjadi bila kita mengganti lilin tersebut dengan lampu yang sangat terang? Belum lagi kegiatan warga yang sebelumnya terbatas dengan penerangan matahari, kini mereka bisa tetap produktif walaupun di malam hari.

Namun cita-cita mulia tersebut bukan berjalan tanpa hambatan, bahkan hambatan yang paling pertama datang adalah dari dalam sendiri. Sibuknya kegiatan belajar, tidak bisa dipugkiri membuat Palapa cukup terbengkalai. Akhirnya diambillah liburan semester pada tahun 2007 untuk merealisasikan proyek ini. Tampuk kepemimpinanpun diserahkan kepada Testantoro Randi Putra, setelah sebelumnya Fadolly Ardin naik jabatan menjadi ketua HME ITB. Di tangan randi inilah kepanitiaan ditata ulang. Secara garis besar kepanitiaan dibagi menjadi dua, tim sosial dan tim teknis. Tim sosial bertugas mempersiapkan masyarakat agar siap menerima teknologi yang masuk, sedangkan tim teknis memikirkan pembangkitnya.
Setelah adanya pembangkit ini, warga yang sebelumnya harus membayar 5000 rupiah untuk satu lampu berukuran 5 watt, kini hanya perlu mengeluarkan 2000 rupiah untuk bayak kegiatan yang bisa dinikmati bersama per bulan. Selain disisi warga, sebagai mahasiswa pun mendapat pelajaran behraga mengenai bagaimana bekerja sama dengan warga. Karena tidak bisa dipungkiri nantinya mahasiswa lah yang akan menjadi abdi Negara.

Meskipun mendapat banyak cibiran mengenai konsepnya yang tidak terlalu matang, Palapa 1 mendapat banyak apresiasi dari berbagai kalangan. Seperti: pada tahun 2010 Palapa HME ITB mendapatkan 3rd Winner IEEE Presidents’ Chance The World Competition, pada tahun 2011 paper Palapa HME ITB berhasil masuk ke dalam IEEEXplore - Delivering full text access to the world’s highest quality tehcnical literature in engineering and technology. Paper tersebut berjudul: PALAPA - Distributed Power Generation for The Development of Underdeveloped villages in Indonesia. Dan banyak penghargaan lain.

Palapa 1 hanyalah awal sebelum proyek-proyek berikutnya yang dilucurkan oleh HME ITB sebagai bentuk pengabdian yang tulus kepada bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar