Kawasan Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi (TMBK), yang
berada di perbatasan Sumedang dan Garut ini menyimpan sejuta pesona kekayaan
hayati dan hewani. Kawasan yang diduga dulu ditumbuhi pohon kareumbi (Homalanthus populneus) ini mempunyai
luas kira-kira 12.420,70 hektar. Untuk sampai ke kawasan ini, kita bisa
menggunakan kereta lokal (KRD) kemudian dilanjutkan naik angkutan umum, selain
itu kita bisa berkendara menggunakan mobil pribadi kira-kira 90 menit.
Yang menarik dari kawasan ini adalah adanya dua desa,
Cigumentong dan Cimulu. Konon katanya, dua daerah tersebut dulunya adalah batas
dua kerajaan, dan di dua kerajaan ini dibangun pos penjaga perbatasan.
Cigumentong mempunyai belasan kepala keluarga. Meskipun tidak
semua merupakan penduduk asli, namun mereka mengaku senang bisa tinggal di
kawasan ini. Bahkan mereka tidak memilih mengadu nasib di Bandung atau Jakarta,
karena menurut mereka tanah Cigumentong lebih berharga untuk dijaga. Lagipula mereka
cukup senang hidup bersahaja.
Sumber energi di Cigumentong:
Posisi desa Cigumentong yang berada jauh diatas gunung,
ditambah jumlah penduduk yang hanya belasan kepala keluarga membuat PLN tidak
mungkin menanamkan modal jutaan untuk melistriki desa. Meskipun begitu,
Cigumentong tetap mempunyai potensi untuk menikmati listrik dengan memanfaatkan
sumber disekitar. Diantara sumber tersebut ada:
1.
Solar Cell
Bila kita pandang ke atap rumah-rumah penduduk, maka dapat
kita amati benda seukuran ipad, yang tertanam Solar Cell didalamnya. Awalnya kita
bingung, suasana pagi di Cigumentong terlihat seperti mendung dan tidak
berpotensi mendapat sinar matahari membuat kita meragukan kerja alat tersebut. Namun
ketika hari sudah beranjak siang, kita dapati langit nan cantik tanpa awan yang
membuat matahari bisa terjun langsung untuk menghangatkan solar cell. Bahkan jika
boleh dikatakan, panasnya cukup terik. Ketika kita tanyakan berapa kapasitas
energi yang dihasilkan dari Solar Cell tersebut, sang pemangku adat mengaku
tidak tahu. Tetapi yang jelas benda tersebut sudah sanggup untuk menyalakan 6
LED superbright yang ada di dalam rumah. Lampu lampu yang disusun secara
paralel ini menjadi salah satu harapan penerangan kampung ditengah semakin
mahalnya minyak tanah untuk lampu tempel. Instalasi penerangan lampu ini bukan
tanpa masalah, baterai yang jadi fasilitas penyimpan tenaga sempat rusak,
meskipun sekarang sudah mendapat bantuan baterai pengganti yang mendapat
garansi hingga 10 tahun.
2.
Mikro Hidro
Berbanding terbalik dengan solar cell, pembangkit mikro
hidro yang dekat dengan desa ini mangkrak sejak setahun ini. Kini pembangkit
ini hanya berfungsi ketika musim penghujan, padahal sebelumnya sepanjang tahun
dia bisa bekerja. Ketika kami naik lebih jauh ke sumber air, kami dapati
ternyata sumber air pusatnya bercabang, satu kearah perkebunan warga, yang satu
lagi ke pembangkit ini. Kami tidak tahu bagaimana pembagian air nya ini, yang
jelas mikro hidro hanya berfungsi saat penghujan. Ketika ditanya mengenai
aktivitas hutan, penduduk sekitar mencurigai ada kegiatan diatas gunung, yang
membuat kini air tidak mengalir lagi.
Ketika naik ke atas gunung tadi, kita merasakan semilir
angin yang cukup kencang meskipun tertutup rimbunnya pepohonan. Bahkan kita
bisa mendengarkan suara gemerisik yang cukup keras dari daun daun yang
bergesekan diatas pohon. Karena tidak membawa peralatan yang memadai, kita
tidak tau seberapa kencang potensi angin cigumentong, tapi yang jelas ini bisa
jadi alternatif.
Alternatif penyelamatan PLTMH pun bisa kita lakukan. Misalnya
saja dengan penataan ulang peta pengembangan wilayah cigumentong. Kami curiga,
penempatan perkebunan disamping PLTMH ini ikut memberikan andil dalam matinya
sang pembangkit. Andai saja pembangkit bisa diletakkan sebelum aliran yang
mengarah ke perkebunan, penduduk bisa menikmati listrik, tanpa harus kehilangan
kebun mereka.
Solusi lain adalah dengan penyelamatan hutan. Meskipun tidak
tahu aktivitas apa saja yang ada di tempat yang lebih atas lagi, tapi hilangnya
air satu tahun terakhir menandakan ada aktifitas yang tidak beres.
Hidup bersahaja yang mereka jalani sekian lama, tetap lebih
kuat dari hasrat memiliki teknologi yang lebih maju. Hanya saja bila kita bisa
memberikan penerangan yang lebih layak, artinya kita memberi ekstra 12 jam yang
bisa mereka gunakan untuk berproduksi, daripada hanya terlelap di gulitanya
malam.-ajay
Tidak ada komentar:
Posting Komentar