Senin, 13 Januari 2014

Gagasan Ringan Mengenai Profesionalitas



Pagi ini saya terngiang-ngiang oleh ceramah yang dibawakan oleh seorang kiayi di TV9 (setasiun TV lokal jawa timuran milik kaum nahdiyin) intinya kira-kira begini, disamping ibadah wajib, ibadah yang bisa dilakukan oleh seseorang itu sangat spesifik mengikuti kedudukan yang dimilikinya di dunia. Artinya selain menunaikan ibadah wajibnya kepada Allah, ibadah lain yang bisa dilakukan seorang dokter adalah merawat pasien, memberikan hal yang terbaik jika ada yang sakit, bukan dengan jualan obat. Saya yang sebenarnya bukan kaum nahdiyin saat itu tertarik untuk mendengarkan gagasan kiayi ini lebih lanjut, ini orang bijak pikir saya. Dalam ceramah itu beliau memberikan contoh masyarakat indonesia yang cukup melenceng dalam menilai seseorang. Contoh itu diberikan dalam dialog berbahasa jawa timuran, disini saya coba terjemahkan menjadi bahasa indonesia.

             Warga: “Alhamdulillah pak yai, kali ini kita mendapat lurah yang bagus”
             Kiayi: “Taunya bagus dari mana pak?”
          Warga: “Itu pak lurah kita orangnya sangat soleh pak yai, beliau rajin ibadah. Tiap hari kerjanya iktikaf terus di masjid”
          Kiayi: “Lha kalo dia iktikaf terus di masjid, kalo ada yang ngurus surat di kantor kelurahan siapa yang tanda tangan? Pemimpin ya harusnya fokus memikirkan warganya, fokus mikir bagaimana warga bisa makan semua. Kalo bagian ibadah itu giliran saya”

Cukup menggelikan memang, tapi dialog diatas seakan memberikan sindiran nyinyir mengenai konsep profesionalitas kita yang sudah sangat campur aduk. Bagaimana tidak, seorang penyanyi dangdut bisa dengan lantangnya berkata saya akan maju nyapres, belum lagi Farhat Abbas kampungan itu, hadeeeh lama-lama setelah lulus saya merawat orang sakit saja. Hahaha cuma bercanda, sebagai calon sarjana listrik saya punya cita-cita menahkodai BUMN listrik yang katanya saat ini rapor merah terus. Doakan ya ._.v

Kembali ke gagasan yang disampaikan kiayi ini. Tiap kedudukan dan amanah yang disandang oleh seseorang itu membawa hak dan kewajiban yang berbeda-beda. Hal ini menjadi masuk akal, karena tidak mungkin diakhirat kelak seorang tukang becak ditanyai berapa orang yang jadi kaya karena adanya dirinya. Hal ini ga nyambung. Sebenarnya tulisan ini masih bisa diteruskan dengan gagasan lanjutan dari Ibu Tri Mumpuni mengenai profesionalitas itu harus dibayar mahal ga? Tapi takut ntar malah kemana mana. Udah ah capek kebanyakan nulis, biarin dibilang tulisannya kacau juga, profesi saya kan bukan penulis. Profesionalitas coy profesionalitas :p

Wassalam~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar