Pagi ini saya terngiang-ngiang oleh ceramah yang dibawakan
oleh seorang kiayi di TV9 (setasiun TV lokal jawa timuran milik kaum nahdiyin)
intinya kira-kira begini, disamping ibadah wajib, ibadah yang bisa dilakukan
oleh seseorang itu sangat spesifik mengikuti kedudukan yang dimilikinya di
dunia. Artinya selain menunaikan ibadah wajibnya kepada Allah, ibadah lain yang
bisa dilakukan seorang dokter adalah merawat pasien, memberikan hal yang
terbaik jika ada yang sakit, bukan dengan jualan obat. Saya yang sebenarnya
bukan kaum nahdiyin saat itu tertarik untuk mendengarkan gagasan kiayi ini
lebih lanjut, ini orang bijak pikir saya. Dalam ceramah itu beliau memberikan
contoh masyarakat indonesia yang cukup melenceng dalam menilai seseorang. Contoh
itu diberikan dalam dialog berbahasa jawa timuran, disini saya coba terjemahkan
menjadi bahasa indonesia.
Warga: “Alhamdulillah
pak yai, kali ini kita mendapat lurah yang bagus”
Kiayi: “Taunya
bagus dari mana pak?”
Warga: “Itu pak lurah kita orangnya
sangat soleh pak yai, beliau rajin ibadah. Tiap hari kerjanya iktikaf terus di
masjid”
Kiayi: “Lha kalo dia iktikaf terus
di masjid, kalo ada yang ngurus surat di kantor kelurahan siapa yang tanda
tangan? Pemimpin ya harusnya fokus memikirkan warganya, fokus mikir bagaimana
warga bisa makan semua. Kalo bagian ibadah itu giliran saya”
Cukup menggelikan memang, tapi dialog diatas seakan
memberikan sindiran nyinyir mengenai konsep profesionalitas kita yang sudah
sangat campur aduk. Bagaimana tidak, seorang penyanyi dangdut bisa dengan
lantangnya berkata saya akan maju nyapres,
belum lagi Farhat Abbas kampungan itu, hadeeeh lama-lama setelah lulus saya
merawat orang sakit saja. Hahaha cuma bercanda, sebagai calon sarjana listrik
saya punya cita-cita menahkodai BUMN listrik yang katanya saat ini rapor merah
terus. Doakan ya ._.v
Kembali ke gagasan yang disampaikan kiayi ini. Tiap
kedudukan dan amanah yang disandang oleh seseorang itu membawa hak dan
kewajiban yang berbeda-beda. Hal ini menjadi masuk akal, karena tidak mungkin
diakhirat kelak seorang tukang becak ditanyai berapa orang yang jadi kaya
karena adanya dirinya. Hal ini ga nyambung. Sebenarnya tulisan ini masih bisa
diteruskan dengan gagasan lanjutan dari Ibu Tri Mumpuni mengenai
profesionalitas itu harus dibayar mahal ga? Tapi takut ntar malah kemana mana. Udah
ah capek kebanyakan nulis, biarin dibilang tulisannya kacau juga, profesi saya
kan bukan penulis. Profesionalitas coy profesionalitas :p
Wassalam~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar