Pada dasarnya "Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui."-Al Baqarah (2:22)
Bumi dan semua isinya ini diciptakan Allah untuk memenuhi kebutuhan manusia. Jadi tidaklah salah jika kita memanfaatkan semua sumber daya yang sengaja Allah berikan sebagai rezeki untuk kita. Kesalahan baru dimulai ketika hanya segelintir manusia yang menguasainya dan sebagian besar yang lain sengaja "diusir" dari hak mereka.
Rentetan permasalahan bermunculan setelah mayoritas manusia dijauhkan dari hak mereka. Dan terpaksa berebut akan hak dasar mereka. Apa yang disebut berebut hak dasar? Untuk makan saja saling senggol, tanah saling serobot, air mencuri dari orang lain dan banyak contoh lain.
Ilustrasi diatas bukan bermaksud menjatuhkan paham tertentu. Saya bisa dihajar habis-habisan oleh temen-temen dari ilmu sosial. Ya saya akui semua paham itu baik. Seperti demokrasi yang sengaja diciptakan dengan harapan mengontrol para kapitalis. Sebut saja alat kontrolnya sebuah pajak, agar ada distribusi kekayaan. Lalu kenapa kekayaan masih terpusat di tempat tertentu? Apa benar yang membayar pajak tersebut sang pemilik perusahaan? Atau itu uang kita sendiri dengan memasukkan pajak kedalam harga barang?
"Sebaik apapun kita mengangankan sebuah teori, takkan ada artinya jika kenyataannya teori tersebut mempunyai celah untuk diakalin oleh sekelompok manusia yang melihat celah tersebut."
Balik ke pertanyaan awal, sudahkah kita mengarahkan mocong kapal balap kita ke arah yang benar?
Bukan bermaksud menyindir para planner yang sudah merancang kota. Untuk masalah ginian, aku bocahmu. Sebagai sesama manusia, kita harus fair. Ketika nanti aku menangani hajat orang banyak tentang listrik (amin), segala komplain tentang hasil pekerjaan akan saya terima. Tak ada takdir atau apapun yang berhak saya salahkan kecuali diri sendiri. Maka ketika sekarang, macet dimana-mana, banyak pengamen dan pengemis, geng motor, kejahatan di jalan, saya harus komplain ke siapa?
Agaknya saya ga perlu menambah dengan kasus tambang emas, batu bara, minyak, gas yang nun jauh disana.
Kalau memang dirasa jalan ini sudah benar, maka monggo dilanjutken balapan pembangunannya. Kalau saya sendiri merasa pada beberapa kesempatan kita bisa membelokkan kemudi, daripada terus hanyut di arus yang sangat deras ini. Tujuannya tak lain agar kita bisa menyentuh garis finis yang benar dengan lebih cepat.
Injury Time
Background pendidikan saya tidak ada hubungannya sama ginian. Hal ini juga baru kusadari dari hasil ngobrol dengan banyak orang. Termasuk didalamnya Pak Iskandar dan istrinya Bu Tri Mumpuni, Irfan temen dari HI UGM serta Greg Mankiw yang menginspirasi saya lewat buku dan papernya. Jika dengan tulisan ini bisa menambah ilmu, maka saya akan terbuka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar