“Transmisi roda gigi
dibuat untuk mempermudah kegiatan manusia, begitu pula dengan sistem
kemahasiswaan yang mempermudah kehidupan mahasiswa. Jika kau menghilangkan
salah satu roda gigi yang saling bersinggungan, maka sebenarnya kau sedang
menghancurkannya”
Bisa jadi banyak hal yang tidak kita ketahui kenapa dahulu
para pendahulu kita mendesain suatu sistem kemahasiswaan yang seperti ini. Bisa
jadi pula saat itu para pendahulu kita belum memikirkan bahwa jatah waktu
mahasiswa akan sedemikian dipersempit seperti saat ini, sehingga sumberdaya
manusia yang mengisi organisasi akan keluar dan masuk sedemikian cepatnya.
Bisa jadi banyak dari kita yang tidak mengerti mengapa dan
untuk apa kita bergerak mengisi organisasi kemahasiswaan. Bisa jadi pula banyak
dari kita yang sudah disibukkan dengan kegiatan akademik sehingga kita belum
sempat menyibukkan diri untuk mencari pergerakan ini untuk apa, realitas yang
belum ditemukan dahulu kala.
Nyatanya semua ini meninggalkan lubang di dalam pemikiran
kita. Bila suatu saat nanti kita akan tersudut dengan semua kenyataan dan
ketidak tahuan akan sejarah kemahasiswaan, akankah kita berhenti dan menyerah? Atau
terus melaju dan belajar?
Sejarah yang terus
berulang
Sejarah Indonesia berhasil mencatat pencapaian luar biasa
yang ditorehkan pergerakan mahasiswa dibarengi dengan kegiatan pelemahan yang
selalu mengikutinya.
Gerakan 1908 yang dimotori oleh Budi Utomo dengan misi
pendidikannya. Diikuti dengan munculnya gerakan lain yang lebih ideologis dan
lebih luas, seperti Indonesische Vereeninging. Indische Partij, Sarekat Islam,
Muhammadiyah, dan Indische Sociaal Democratische Vereeninging (ISDV).
Gerakan 1928
yang diawali dengan kecewanya para mahasiswa melihat kenyataan yang terjadi di
Indonesia sepulang dari belajar diluar negeri, dibentuklah kelompok studi yang
saat itu berpusat di Surabaya dan Bandung. Gerakan 1928 diingat dengan Sumpah
Pemudanya yang melegenda itu.
Gerakan 1945 mendapat
tantangan dari pemerintahan jepang. Kelompok studi yang terbentuk banyak yang
dicekal dan dibubarkan oleh jepang. Alhasil kegiatan mahasiswa terpusat di
asrama-asrama.
Gerakan 1966
jauh lebih menantang, karena tantangan justru datang dari saudara sendiri,
gerakan mahasiswa berhaluan kiri. Setelah melewati badai itu, gerakan ini juga
menghadapi tantangan yang jauh lebih berat. Yaitu pelemahan ideologi oleh Orde
Baru dengan hadiah duduk di kursi DPR/MPR. Dalam rentang waktu ini muncul tokoh
panutan mahasiswa yang terus menjaga idealism nya, Soe Hok Gie.
Gerakan 1974
berbeda dengan gerakan 1966, kali ini gerakan mahasiswa melawan pemerintahan
karena kekecewaan mahasiswa dengan realitas yang terjadi.
Gerakan
1977-1978 diingat dengan NKK/BKK nya yang melegenda. Sebelum 1977, mahasiswa
mulai disibukkan dengan kegiatan kemahasiswaan seperti Kerja Nyata, Dies
Natalis. Menjelang pemilu 1977 kondisi baru memanans mahasiswa melawan kekuatan
militer.
Gerakan 1990
ditandai dengan dicabutnya NKK/BKK dan diberlakukannya PUOK dengan SMPT, SMF,
dan UKM sebagai isinya. Hal ini ditolak oleh mahasiswa, karena mahasiswa
menginginkan kegiatan yang lebih mandiri, tidak dicampuri pemerintah. Setelah
itu muncullah kembali Dewan Mahasiswa, walau tak sama persis dengan masa
kejayaannya dulu.
Gerakan 1998
adalah gerakan terakir yang dicatat oleh sejarah kita. Yaitu gerakan reformasi.
Gerakan
mahasiswa selalu mendapat tempat di hati rakyat, karena gerakan mahasiswa
selalu berasal dari kegelisahan rakyat. Kegiatan mahasiswa yang saat ini tidak
merakyat cukup memberi alasan bahwa gerakan mahasiswa saat ini sudah tidak ada.
Mahasiswa sudah disibukkan dengan kegiatan internal kampusnya, dan itu di klaim
sebagai gerakan mahasiswa, sungguh ironi.
Bayi Imut Bernama KM-ITB
Dengan
dicabutnya NKK/BKK, kegiatan mahasiswa terpusat di kampus mulai menggeliat
lagi. Keluarga Mahasiswa ITB sebagai wadah formal aktivitas kemahasiswaan ITB
berhasil di deklarasikan 20 Januari 1996. Belum sampai deklarasi ini
membangkitkan gairah kemahasiswaan terpusat, aral menghadang dating dari para
birokrat kampus. Tahun 1996 juga tercatat sebagai tahun menambah tebal tumpukan
konsep organisasi kemahasiswaan ITB. Baru tahun 1998, FKHJ mengambil alih
kemudi, mensintesa konsep yang sudah ada dan mengimplementasikannya.
Melawan Hegemoni Himpunan Mahasiswa
Jurusan
Dibandingkan
dengan HME ITB yang sudah terbentuk tanggal 5 Desember 1949, KM-ITB terlihat
seperti seorang bayi dengan HME sebagai salah satu ibu yang melahirkannya. Bayi
tersebut masih ketergantungan dengan ASI dari sang ibu. Setelah opini bahwa
saat ini kegiatan akademik jauh lebih menarik dari kegiatan kemahasiswaan,
masih ada opini lain yaitu KM-ITB harus bersaing dengan HMJ untuk menarik
simpati massa. Bahkan KM-ITB banyak disebut sebagai himpunan ke-32 dengan outsider dari himpunan sebagai
penggeraknya.
Bila anda
melihat sesuatu yang salah dengan itu, maka saya sepakat dengan anda. Kebutuhan
mahasiswa itu sangat beragam. Kebutuhan itu bisa kita kempokkan menjadi tiga. Yaitu
kebutuhan individual, kebutuhan kelompok dan kebutuhan semua mahasiswa ITB. Kebutuhan
individual dapat ditangani secara mandiri oleh masing-masing mahasiswa. Kebutuhan
yang spesifik kelompok tertentu, seperti belajar ngoprek peralatan elektronik
untuk mahasiswa elektro bisa diakomodasi oleh HME ITB. Sedangkan kebutuhan
seluruh mahasiswa ITB S1 diakomodasi oleh KM-ITB.
Untuk
menjembatani kolaborasi kerja HMJ dan KM-ITB itulah dalam sistem organisasi
mahasiswa ITB kita gunakan senator sebagai utusan lembaga. Suara yang dihimpun
di HME dibawa oleh senator ke Kongres KM-ITB, setelah itu hasilnya
disosialisasikan kembali ke masa HME.
Penutup
Organisasi
kampus adalah organisasi paling dinamis yang ada. Mulai dari sumber daya
manusianya yang terus berganti dengan cepat, tantangan yang terus datang silih
berganti kita bisa memilih kokoh dengan konsep kemahasiswaan ini, atau kita
bisa ikutan dinamis dengan menjawab tantangannya sendiri, atau malah dengan
mencari titik optimal antara kokoh dan dinamis dengan segala trade off yang ada.
Ditengah
kenyataan itu, tidak seharusnya lembaga yang mengisi kegiatan mahasiswa di
kampus ITB ini memperlihatkan arogansinya masing-masing. Kita harus berani
merendahkan hati, dan mengefektifkan semua wadah yang ada.
Menurut saya
organisasi kemahasiswaan itu tak perlu ada jika nanti tiba saatnya kegiatan
akademik bisa mengakomodasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Sampai saat itu tiba,
maka harus ada gear tambahan agar output dari sistem pendidikan perguruan
tinggi ini menjadi sarjana yang utuh. Di akhir penulisan essay ini saya
membayangkan betapa beratnya tugas yang dibebankan secara moral kepada
mahasiswa dan aku ingin pulang.
Essay ini dibuat untuk menjadi syarat mengikuti pemilu senator HME ITB 2014
Akbar Jaya Binawan-18011016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar