Kamis, 03 April 2014

Aku Ingin Pulang



Transmisi roda gigi dibuat untuk mempermudah kegiatan manusia, begitu pula dengan sistem kemahasiswaan yang mempermudah kehidupan mahasiswa. Jika kau menghilangkan salah satu roda gigi yang saling bersinggungan, maka sebenarnya kau sedang menghancurkannya”

Bisa jadi banyak hal yang tidak kita ketahui kenapa dahulu para pendahulu kita mendesain suatu sistem kemahasiswaan yang seperti ini. Bisa jadi pula saat itu para pendahulu kita belum memikirkan bahwa jatah waktu mahasiswa akan sedemikian dipersempit seperti saat ini, sehingga sumberdaya manusia yang mengisi organisasi akan keluar dan masuk sedemikian cepatnya. 

Bisa jadi banyak dari kita yang tidak mengerti mengapa dan untuk apa kita bergerak mengisi organisasi kemahasiswaan. Bisa jadi pula banyak dari kita yang sudah disibukkan dengan kegiatan akademik sehingga kita belum sempat menyibukkan diri untuk mencari pergerakan ini untuk apa, realitas yang belum ditemukan dahulu kala.

Nyatanya semua ini meninggalkan lubang di dalam pemikiran kita. Bila suatu saat nanti kita akan tersudut dengan semua kenyataan dan ketidak tahuan akan sejarah kemahasiswaan, akankah kita berhenti dan menyerah? Atau terus melaju dan belajar?

Sejarah yang terus berulang
Sejarah Indonesia berhasil mencatat pencapaian luar biasa yang ditorehkan pergerakan mahasiswa dibarengi dengan kegiatan pelemahan yang selalu mengikutinya.

Gerakan 1908 yang dimotori oleh Budi Utomo dengan misi pendidikannya. Diikuti dengan munculnya gerakan lain yang lebih ideologis dan lebih luas, seperti Indonesische Vereeninging. Indische Partij, Sarekat Islam, Muhammadiyah, dan Indische Sociaal Democratische Vereeninging (ISDV).

Gerakan 1928 yang diawali dengan kecewanya para mahasiswa melihat kenyataan yang terjadi di Indonesia sepulang dari belajar diluar negeri, dibentuklah kelompok studi yang saat itu berpusat di Surabaya dan Bandung. Gerakan 1928 diingat dengan Sumpah Pemudanya yang melegenda itu.

Gerakan 1945 mendapat tantangan dari pemerintahan jepang. Kelompok studi yang terbentuk banyak yang dicekal dan dibubarkan oleh jepang. Alhasil kegiatan mahasiswa terpusat di asrama-asrama.

Gerakan 1966 jauh lebih menantang, karena tantangan justru datang dari saudara sendiri, gerakan mahasiswa berhaluan kiri. Setelah melewati badai itu, gerakan ini juga menghadapi tantangan yang jauh lebih berat. Yaitu pelemahan ideologi oleh Orde Baru dengan hadiah duduk di kursi DPR/MPR. Dalam rentang waktu ini muncul tokoh panutan mahasiswa yang terus menjaga idealism nya, Soe Hok Gie.

Gerakan 1974 berbeda dengan gerakan 1966, kali ini gerakan mahasiswa melawan pemerintahan karena kekecewaan mahasiswa dengan realitas yang terjadi.

Gerakan 1977-1978 diingat dengan NKK/BKK nya yang melegenda. Sebelum 1977, mahasiswa mulai disibukkan dengan kegiatan kemahasiswaan seperti Kerja Nyata, Dies Natalis. Menjelang pemilu 1977 kondisi baru memanans mahasiswa melawan kekuatan militer.

Gerakan 1990 ditandai dengan dicabutnya NKK/BKK dan diberlakukannya PUOK dengan SMPT, SMF, dan UKM sebagai isinya. Hal ini ditolak oleh mahasiswa, karena mahasiswa menginginkan kegiatan yang lebih mandiri, tidak dicampuri pemerintah. Setelah itu muncullah kembali Dewan Mahasiswa, walau tak sama persis dengan masa kejayaannya dulu.

Gerakan 1998 adalah gerakan terakir yang dicatat oleh sejarah kita. Yaitu gerakan reformasi.

Gerakan mahasiswa selalu mendapat tempat di hati rakyat, karena gerakan mahasiswa selalu berasal dari kegelisahan rakyat. Kegiatan mahasiswa yang saat ini tidak merakyat cukup memberi alasan bahwa gerakan mahasiswa saat ini sudah tidak ada. Mahasiswa sudah disibukkan dengan kegiatan internal kampusnya, dan itu di klaim sebagai gerakan mahasiswa, sungguh ironi.

Bayi Imut Bernama KM-ITB
Dengan dicabutnya NKK/BKK, kegiatan mahasiswa terpusat di kampus mulai menggeliat lagi. Keluarga Mahasiswa ITB sebagai wadah formal aktivitas kemahasiswaan ITB berhasil di deklarasikan 20 Januari 1996. Belum sampai deklarasi ini membangkitkan gairah kemahasiswaan terpusat, aral menghadang dating dari para birokrat kampus. Tahun 1996 juga tercatat sebagai tahun menambah tebal tumpukan konsep organisasi kemahasiswaan ITB. Baru tahun 1998, FKHJ mengambil alih kemudi, mensintesa konsep yang sudah ada dan mengimplementasikannya.

Melawan Hegemoni Himpunan Mahasiswa Jurusan
Dibandingkan dengan HME ITB yang sudah terbentuk tanggal 5 Desember 1949, KM-ITB terlihat seperti seorang bayi dengan HME sebagai salah satu ibu yang melahirkannya. Bayi tersebut masih ketergantungan dengan ASI dari sang ibu. Setelah opini bahwa saat ini kegiatan akademik jauh lebih menarik dari kegiatan kemahasiswaan, masih ada opini lain yaitu KM-ITB harus bersaing dengan HMJ untuk menarik simpati massa. Bahkan KM-ITB banyak disebut sebagai himpunan ke-32 dengan outsider dari himpunan sebagai penggeraknya.

Bila anda melihat sesuatu yang salah dengan itu, maka saya sepakat dengan anda. Kebutuhan mahasiswa itu sangat beragam. Kebutuhan itu bisa kita kempokkan menjadi tiga. Yaitu kebutuhan individual, kebutuhan kelompok dan kebutuhan semua mahasiswa ITB. Kebutuhan individual dapat ditangani secara mandiri oleh masing-masing mahasiswa. Kebutuhan yang spesifik kelompok tertentu, seperti belajar ngoprek peralatan elektronik untuk mahasiswa elektro bisa diakomodasi oleh HME ITB. Sedangkan kebutuhan seluruh mahasiswa ITB S1 diakomodasi oleh KM-ITB.

Untuk menjembatani kolaborasi kerja HMJ dan KM-ITB itulah dalam sistem organisasi mahasiswa ITB kita gunakan senator sebagai utusan lembaga. Suara yang dihimpun di HME dibawa oleh senator ke Kongres KM-ITB, setelah itu hasilnya disosialisasikan kembali ke masa HME.

Penutup
Organisasi kampus adalah organisasi paling dinamis yang ada. Mulai dari sumber daya manusianya yang terus berganti dengan cepat, tantangan yang terus datang silih berganti kita bisa memilih kokoh dengan konsep kemahasiswaan ini, atau kita bisa ikutan dinamis dengan menjawab tantangannya sendiri, atau malah dengan mencari titik optimal antara kokoh dan dinamis dengan segala trade off yang ada.

Ditengah kenyataan itu, tidak seharusnya lembaga yang mengisi kegiatan mahasiswa di kampus ITB ini memperlihatkan arogansinya masing-masing. Kita harus berani merendahkan hati, dan mengefektifkan semua wadah yang ada.

Menurut saya organisasi kemahasiswaan itu tak perlu ada jika nanti tiba saatnya kegiatan akademik bisa mengakomodasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Sampai saat itu tiba, maka harus ada gear tambahan agar output dari sistem pendidikan perguruan tinggi ini menjadi sarjana yang utuh. Di akhir penulisan essay ini saya membayangkan betapa beratnya tugas yang dibebankan secara moral kepada mahasiswa dan aku ingin pulang.

Essay ini dibuat untuk menjadi syarat mengikuti pemilu senator HME ITB 2014
Akbar Jaya Binawan-18011016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar