Dewasa ini kita mendapat masalah yang serius terkait daya
tahan. Ya, peralihan musim seperti ini membuat tubuh kita sibuk meyesuaikan
diri. Sembari kita sibuk dengan kegiatan sendiri, kita bisa jadi kecolongan,
seperti kecolongan istri saat sibuk dengan urusan kantor.
Saat demikian, rumah sakit-rumah sakit pasti penuh sesak
dengan pasien. Ada pasien yang dari kalangan mampu, ada yang setengah mampu,
ada yang dimampu-mampuin biar bisa sembuh. Dengan demikian pelayanannya pun
berbeda beda. Yang mampu jelas dapet pelayanan istimewa, sakit bak berasa di
hotel. Yang setengah mampu dapetnya juga setengah, tapi yang penting sembuhnya
ga boleh setengah-setengah. Gimana yang dimampu-mampuin? Dapet pelayanan penuh
dong, full servis dari keluarga yang dicintai.
Meskipun penangkal penyakit ini sudah banyak dibuat, namun
semua yang bisa bikin sakit, seperti virus, bakteri, kuman, cinta bisa
berkembang membuat sakit yang lebih dalam. Bahkan sekarang sudah ditemukan
banyak varian virus yang bisa menggerogoti urat nadi negara. Sesuatu yang tak
pernah kita temukan dulu, karena dokter yang mau mengungkapkannya keburu ketemu
petrus.
Tercatat ada beberapa ketahanan negara yang terlihat rapuh,
misalnya:
Ketahanan pangan, tanah kita subur makmur, gemah ripah loh
jinawi, tongkat dan batu jadi tanaman, ungkapan yang seaakan meninabobokkan
kita. Tercatat kita pernah menjadi swasembada pangan, meskipun mungkin hanya
seumur jagung, yang penting kita pernah dan terus dibanggakan sampai ke anak
cucu. Sekarang pangan kita jadi mainan orang luar. Para alien itu seenaknya
saja mainin harga pangan kita, sebabnya ya cuma satu, mereka lah pemegang
kendali. Masak beras sampai impor dari thailand, ntar bisa-bisa kita makan
beras yang waria.
Ketahanan militer kita sebenarnya juga memprihatinkan. Alat-alat
yang sudah udzur itu terus dipaksakan untuk berjuang menjadi syahid, memang sih
ada ungkapan tua tua keladi, tapikan barang tua sudah keriput dan ga bisa
berdiri lama lagi. Untuk anda yang mempertanyakan kenapa sih dijaman yang sudah
aman dan tentram ini harus siapin senjata? Memang kita tidak mau perang, tapi
siapa yang bakalan jagaian tuh laut kita dari pencurian ikan, njing! Kalau saja
ikan-ikan yang bergizi itu diberikan pada anak-anak negeri (kalo swasta mah
udah kaya, bisa beli ikan sendiri), maka tanpa sekolah pun negara ini akan
pandai. Tapi yang menyesakkan kita tidak hanya dirampok secara ilegal, yang
legal pun menjual semua ikan kualitas super keluar. Terus yang anak negeri
dapet sampah-sampah sisa produksi. Makanan kita dimakan para alien padahal
banyak dari kita yang kelaparan. Ini jelas pencurian yang biadab!
Sekarang pindah dulu ke sisi positif dari ketahanan kita ya,
biar imbang:
Kita selalu tahan banget waktu dimainin sama malingsia. Untuk
urusan yang satu ini berasa kita sedang pake obat kuat kualitas impor (kita ga
percaya diri sama obat kuat lokal). Meskipun malaynjing sudah ngecret
berkali-kali tapi kita tetap bisa tahan tegang sampai berkali-kali ngecret
berikutnya. Tercatat ada banyak kasus yang merendahkan harga diri kita. Misalnya
kasus klaim barang kita seperti lagu, tarian, kebudayaan, tapi kita hanya diam.
Tapi ada satu yang tidak bisa kita tahan dari malaysia, serbuan gol dari safee Sali.
Kalo ada lomba tahan miskin saat agustusan mungkin kita akan
selalu juara, paling tidak finalis lah seperti gelaran AFF. Tapi trend
akhir-akhir ini, dalam lomba miskin-miskinan sudah meniru cabang olahraga yang
lain kok, tahun ini finalis, tahun depan 8 besar, tahun depannya lagi lolos
fase grup aja enggak. Ibaratnya seperti kebelet pipis di kereta ekonomi, kita
sudah siap keluar tapi kamar mandinya diisi sama orang karena keretanya ga
cukup. Ah tapi kaum sok pinter sudah merubah regulasi kereta ekonomi ku
tercinta.
Kembali ke masalah penyakit, virus yang menyerang negara ini
jauh lebih ganas dari virus HIV. Bahkan kalo kita dapet 3 permintaan dari jin
ketika menggosok lampu ajaib, jin akan milih jangan digosok daripada diminta
benerin negara ini. Makanya salah siapa minta kok ya ke jin. Minta itu hanya
pada ALLAH semata!
