Diskusi Kolaboratif Renewable Energy
7 Oktober 2011
Deputi Diseminasi dan Elaborasi Keprofesian
Moderator: Randy Aditya
Bandung, ITBProfession – Renewable energy adalah sesuatu
yang bisa digarap bersama-sama. Semua himpunan punya potensi untuk ikut ambil bagian
di dalam renewable energy. Begitu kira-kira yang diungkapkan Danny Gatot
Harbowo, Mentri Proinov, ketika membuka acara diskusi siang itu. Mau tidak mau,
kemajuan teknologi menuntut kita untuk semakin banyak menggunakan energi. Sudah
selayaknya ITB sebagai kampus teknologi paling tidak bisa peduli pada masalah
ini.
Acara diawali dengan presentasi dari Himpunan Mahasiswa
Teknik Perminyakan(HMTM-Patra) mengenai geothermal. Energi yang menurut mereka
masih mahal untuk dipakai dan dikembangkan ini sangat potensial untuk digunakan
di masa depan. Pasalnya energi yang diambil dari aktivitas batuan yang nantinya
disalurkan ke reservoir terus ke separator sebelum sampai ke turbin ini tinggal
ambil dari perut bumi, yang dalam hal ini berfungsi sebagai kompor yang siap
memanaskan. Selain itu energi ini bersih dan ramah lingkungan, ketika semua
sedang berlomba lomba untuk go green energi
ini sangat potensial untuk digunakan. Sayangnya perpolitikan Indonesia saat ini
tidak mendukung untuk itu.
Presentasi berikutnya adalah dari Himpunan Mahasiswa
Meteorologi (HMME-Atmosphaira) yang membahas sifat fisis dan dinamika atmosfer,
dalam hal ini energi yang disoroti adalah energi angin. Meskipun tidak sebagus
di daerah subtropis, di Indonesia yang memiliki banyak pesisir sangat potensial
untuk diberi Pembangkit Listrik Tenaga Angin. Pasalnya daerah pesisir angin
yang melaju tidak terhalang, selain itu perbedaan tekanan yang tinggi membuat
angin mudah mengalir. Disinilah peran para meteorologist untuk menentukan mana
titik yang cocok untuk dibuatkan turbin angin. Energi ini menjadi potensial
karena saat ini masih belum banyak yang berinvestasi untuk itu.
Himpunan Mahasiswa Fisika (HIMAFI) yang juga ikut ambil
bagian dalam diskusi ini membawa nuklir sebagai kontennya. Sudah jadi rahasia
umum bahwa sistem birokrasi kita tidak mendukung untuk dibuat pembangkit
listrik jenis ini. Padahal potensi cadangan uranium di kalimantan yang melimpah
sangat potensial untuk itu.
Selain ketiga himpunan diatas, Himpunan Mahasiswa Elektro
(HME) dan Himpunan Mahasiswa Kimia (HMK-Amisca) datang tidak hanya dengan
wacana. HME membawa produk mereka berupa sun-tracker yang bisa melacak posisi
kemiringan sel surya agar didapat energi yang paling besar, serta boost
konverter yang mengatasi rugi mekanik pada roda gigi. Sedangkan Amisca membawa
solar cell yang ternyata bisa dikombinasikan dengan sumber energi lain.
Diskusi ditutup dengan presentasi dari Ikatan Mahasiswa
Metalurgi (IMMG) yang mengangkat isu peranan metalurgi dalam renewable energy.
Meskipun tidak bersinggungan langsung, jurusan yang erat kaitannya dengan
pengolahan hasil tambang ini bisa memberikan kontibusi dalam pemilihan bahan
agar dicapai kondisi yang maksimal.
artikel ini dibuat untuk majalah ITBProfession kementrian profesi dan inovasi KM-ITB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar