Sabtu, 24 November 2012

Renewable Energy


Diskusi Kolaboratif Renewable Energy

7 Oktober 2011

Deputi Diseminasi dan Elaborasi Keprofesian

Moderator: Randy Aditya

Bandung, ITBProfession – Renewable energy adalah sesuatu yang bisa digarap bersama-sama. Semua himpunan punya potensi untuk ikut ambil bagian di dalam renewable energy. Begitu kira-kira yang diungkapkan Danny Gatot Harbowo, Mentri Proinov, ketika membuka acara diskusi siang itu. Mau tidak mau, kemajuan teknologi menuntut kita untuk semakin banyak menggunakan energi. Sudah selayaknya ITB sebagai kampus teknologi paling tidak bisa peduli pada masalah ini.

Acara diawali dengan presentasi dari Himpunan Mahasiswa Teknik Perminyakan(HMTM-Patra) mengenai geothermal. Energi yang menurut mereka masih mahal untuk dipakai dan dikembangkan ini sangat potensial untuk digunakan di masa depan. Pasalnya energi yang diambil dari aktivitas batuan yang nantinya disalurkan ke reservoir terus ke separator sebelum sampai ke turbin ini tinggal ambil dari perut bumi, yang dalam hal ini berfungsi sebagai kompor yang siap memanaskan. Selain itu energi ini bersih dan ramah lingkungan, ketika semua sedang berlomba lomba untuk go green energi ini sangat potensial untuk digunakan. Sayangnya perpolitikan Indonesia saat ini tidak mendukung untuk itu.

Presentasi berikutnya adalah dari Himpunan Mahasiswa Meteorologi (HMME-Atmosphaira) yang membahas sifat fisis dan dinamika atmosfer, dalam hal ini energi yang disoroti adalah energi angin. Meskipun tidak sebagus di daerah subtropis, di Indonesia yang memiliki banyak pesisir sangat potensial untuk diberi Pembangkit Listrik Tenaga Angin. Pasalnya daerah pesisir angin yang melaju tidak terhalang, selain itu perbedaan tekanan yang tinggi membuat angin mudah mengalir. Disinilah peran para meteorologist untuk menentukan mana titik yang cocok untuk dibuatkan turbin angin. Energi ini menjadi potensial karena saat ini masih belum banyak yang berinvestasi untuk itu.

Himpunan Mahasiswa Fisika (HIMAFI) yang juga ikut ambil bagian dalam diskusi ini membawa nuklir sebagai kontennya. Sudah jadi rahasia umum bahwa sistem birokrasi kita tidak mendukung untuk dibuat pembangkit listrik jenis ini. Padahal potensi cadangan uranium di kalimantan yang melimpah sangat potensial untuk itu.

Selain ketiga himpunan diatas, Himpunan Mahasiswa Elektro (HME) dan Himpunan Mahasiswa Kimia (HMK-Amisca) datang tidak hanya dengan wacana. HME membawa produk mereka berupa sun-tracker yang bisa melacak posisi kemiringan sel surya agar didapat energi yang paling besar, serta boost konverter yang mengatasi rugi mekanik pada roda gigi. Sedangkan Amisca membawa solar cell yang ternyata bisa dikombinasikan dengan sumber energi lain.

Diskusi ditutup dengan presentasi dari Ikatan Mahasiswa Metalurgi (IMMG) yang mengangkat isu peranan metalurgi dalam renewable energy. Meskipun tidak bersinggungan langsung, jurusan yang erat kaitannya dengan pengolahan hasil tambang ini bisa memberikan kontibusi dalam pemilihan bahan agar dicapai kondisi yang maksimal.
artikel ini dibuat untuk majalah ITBProfession kementrian profesi dan inovasi KM-ITB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar